Thursday, 23 March 2017

Hikayat Tuk Layang

Hikayat Tuk Layang – Di sebuah kelekak sekitar Buding,saat penduduk Belitung masih tinggal di pedalaman guna menghindari gangguan lanun,tinggal satu keluarga dengan satu anak yang hidup sangat bersahaja.Keluarga itu di kepalahi seorang suami yang di kenali masyarakat dengan panggilan Tuk Layang.

Tuk layang adalah seorang yang memilik ilmu tinggi,baik di darat maupun di laut.Tak heran penduduk setempat merasa tentram,karena Tuk Layang bisa menjadi tempat berlindung dari gangguan para lanun yang saat itu suka menyerang perkampungan penduduk.Sementara ketika dilaut,para lanun selalu akan menjauh jika melihat Tuk Layang sedang mendayung sendiri perahunya.

Sehari-hari,Tuk Layang tak pernah lepas dari Tembako Sugi ( mengunyah tembakau lalu menyelipkan nya di sudut bibir yang menjadi salah satu kebiasaan penduduk Belitung masa lalu dan masih ada di masa sekarang,red ).Salah satu kehebatan Tuk Layang adalah memiliki tenaga yang tak terduga kuat nya serta ilmu gerak cepat.Tuk Layang juga menyukai makanan burung-burung hasil buruan yang banyak terdapat di hutan sekitar tempat tinggal nya.

Untuk memenuhi makanan kesukaan nya itu,suatu pagi Tuk Layang pergi berburu ke hutan di sekitar Sungai Buding.Dalam perjalanan,tiba-tibadari arah hulu sungai,Tuk Layang mendengar riuh rendah.Dari suaranya,Tuk Layang yakin bahwa,Burung Bayan itu jumlahnya mencapai ratusan.

Mendengar suara itu bergegas Tuk Layang mendatangi arah asal suara.Ternyata dugaan Tuk Layang benar.Begitu sampai di sebuah pohon medang yang rindang,nampak ratusan burung bayan yang sedang asik makan buah pohon tersebut.melihat burung yang begitu banyak,Tuk Layang sudah bersiap untuk memanjat pohon tersebut.Tapi,setelah diamatinya,pohon tersebut sulit untuk di panjat.Karena masih pagi,pohon basah,hingga kalau di panjat kemungkinan akan jatuh.

Tak mau ambil resiko,Tuk Layang lalu duduk di bawah pohon tersebut.Mencari akal bagaimana caranya agar bisa mendapatkan semua burung di pohon medang itu tanpa perlu memanjatnya.Setalah agak lama berpikir,Tuk Layang nampak berdiri dan berjalan menuju pinggir sungai.Sekejab kemudian ia nampak membawa batu berukuran kepala manusia dewasa yang di ambil dari sungai tersebut.Begitu sampai di bawah pohon tadi,dengan sekuat tenaga,Tuk Layang melemparkan batu kali tadi ke bagian tengah pohon medang,dimana burung-burung bayan sedang asik makan buahnya.

Saking kuatnya Tuk Layang melempar,begitu batu kali mengenai sasaran,pohon tersebut terguncang sangat keras.Sekejap kemudian,satu per satu burung bayan di pohon tersebut berjatuhan ke tanah,hingga jumlah nya mencapai ratusan ekor.Pendek kata,hari itu,dengan sekali lempar Tuk Layang berhasil mendapatkan ratusan burung bayan kesukaan nya.

Konon,menurut ceita penduduk belitung,batu kali yang di gunakan Tuk Layang untuk melempar burung tersangkut di salah satu dahan pohon di sebelahnya,dan belum jatuh hingga saat ini.Batu itulah,kemudian di kenali sebagai Batu Bayan dan ada juga yang menyebutnya Batu Tuk Layang.

Nah,karena banyak nya burung bayan yang jatuh,Tuk Layang harus berulang kali mengangkutnya ke rumah.Oleh Nek Layang ( Istri Tuk layang ,red ) burung-burung tadi di pisahkan menjadi dua bagian.Sebagian untuk lauk-pauk makan hari itu,dan sebagian lagi di awetkan ( diasinkan ) untuk cadangan makanan di hari-hari mendatang.

Cuma,untuk menggarami burung sebanyak itu,persedian garam Nek Layang ternyata tak cukup.Garam yang ada di rumah hanya cukup untuk memasak hari itu saja,sementara untuk menggarami yang lainya tak ada lagi.

Tahu Nek Layang kehabisan garam,Tuk Layang pun berkata pada istrinya,” Mun kitu se,kau tunggu la suat de ruma.Kau buatek la duluk burong-burong idang degaramek tek.Biar aku pegi ke jawe duluk meli garam sekalian kan meli tembako sugi.”

Belum sempat Nek Layang menjawab,Tuk Layang telah berada di atas perahu di pinggir Sungai Buding.Lalu,hanya dengan tiga kayuhan,Tuk Layang pun sampai ke jawa.Setelah membeli garam dan tembako sugi untuk persedian sebulan,Tuk Layang pun segera kembali ke Belitung.Juga dengan menggunakan kekuatan penuh,karena khawatir Nek Layang sudah selesai membersihkan burung bayan yang akan di garami.

Namun,baru satu kayuhan,Tuk Layang melihat beberapa titik hitam di depan nya.Karena itu Tuk Layang pun segera melambatkan laju perahunya.Rupanya titik-titik hitam tadi adalah gerombolan para lanun yang sudah siap mencegatnya,karena tahu Tuk Layang baru saja membeli garam dan jumlahnya banyak.Mengetahui para lanun mau mencegatnya,Tuk Layang segera menghentikan perahu,hingga nampak seperti sedang mengalami kerusakan.

Sementara perahunya melambat Tuk Layang mengunyah tembako sugi.Siasat Tuk Layang rupanya berhasil mengecoh para lanun,menyangka perahu Tuk Layang rusak mereka segera mendekat.Namun,apa yang terjadi kemudian ?

Begitu perahu para lanun sudah mencapai jarak sepenyemburan sugi,tanpa di duga Tuk Layang menyemburkan sugi dari mulutnya ke arah perahu para lanun.Tak ayal,akibat semburan sugi yang begitu kuat,perahu para lanun itu pun pecah,sementara awak nya tenggelam di laut.Sementara perahu-perahu yang masih Selamat dari semburan sugi Tuk Layang segera kabur,segera menjauh.

Singkat cerita,setelah para lanun pergi,Tuk Layang pun segera kembali ke Sungai Buding.Dengan dua kayuhan dia sudah sampai di pinggir Sungai Buding.Cuma,begitu sampai di rumah betapa kagetnya Tuk Layang.Nek Layang rupanya belum juga selesai membersihkan burung-burung yang akan di garami.Padahal,waktu itu,matahari sudah condong ke barat.Akhirnya,Tuk Layang jugalah yang harus menyelesaikan perkerjaan tersebut.

Tempat terjadinya peristiwa ini,Tuk Layang Melempar burung bayan,hingga kini,masih bisa di lihat di sekitar Sungai Buding,,sekitar kilometer 44 dari Kota Tanjungpandan menuju Manggar.

Lokasi persisinya terletak di sebelah kiri jalan,agak kedalam sejajar dengan aliran Sungai Buding menuju muara.

Tentang cerita kepergian Tuk Layang ke jawa,walau mengakui versi pertamanya,membeli garam dan tembako sugi,sebagian masyarakat punya versi lain.Memelesetkan nya menjadi semacam joke agak porono,menyegarkan

Konon,saking banyak nya burung bayan yang di bawa pulang ke rumah,Tuk Layang ikut membantu Nek Layang menyianginya.Tuk Layang menyianginya burung tersebut duduk sambil memangku anaknya.Sementara nek Layang menyiangi burung tersebut persis di depan Tuk Layang sambil berjongkok.

Karena asik menyiangi burung bayan yang begitu banyak,Nek Layang jadi Kurang Senange’an,hingga tak sadar dirinya tebengang ( kain/rok tersingkap hingga perkakas yang terlindung di baliknya bisa di lihat orang lain,( orang Belitung mestinya tahu isitilah ini,red ) Nah,tidak tahan melihat Nek Layang tebengang,rupanya perkakas Tuk Layang bereaksi keras.Saking kuatnya reaksi perkakas Tuk Layang,anak di pangkuan nya terpelanting hingga ke jawa.

Karena itulah,menurut sebagian penduduk,kepergian Tuk Layang ke jawa sebenarnya bukan untuk membeli garam dan temabako sugi,tapi untuk menjemput anaknya yang terpelanting karena lentingan perkakas Tuk Layang yang tidak tahan melihat Nek Layang Tebengang.Sumber Cerita Hikayat Tuk Layang ini berasal dari Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib

Related Posts to "Hikayat Tuk Layang"